Pancasila, Ideologi Paling Cemerlang

Bhineka Tunggal Eka sebagai falsafah negara sekarang sudah tidak dihayati oleh bangsa Indonesia. Semakin banyak konflik sosial di sekitar kita dan sentimen agama tak pernah lekang. Para pemuka masyarakat menanggapi fenomena tersebut.

Krisis Masyarakat Multikultural

Eksistensi Indonesia sebagai sebuah bangsa sedang dipertaruhkan. Nation and Character Building yang selalu diserukan oleh sang Pemimpin Besar Revolusi kembali ke permukaan.

Showing posts with label Opini. Show all posts
Showing posts with label Opini. Show all posts

Thursday, July 9, 2015

Pancasila, Ideologi Paling Cemerlang


Bhineka Tunggal Eka sebagai falsafah negara sekarang sudah tidak dihayati oleh bangsa Indonesia. Semakin banyak konflik sosial di sekitar kita,  sentimen agama tak pernah lekang sebagamana yang menimpa jamaah  Syiah di Sampanug, kaum miilitan melakukan pengeboman di beberapa wilayah, tawuran antar pelajar semakin liar, dan berbagai kasus kekerasan menyita pemberitaan media massa. Menanggapi fenomena tersebut para pemuka masyarakat mengudar pendapat berikut :

Bingky Irawan / Poo Sun Bing – Presidium  Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia
“Meskipun fenomena sosial yang berkembang sekarang mengkhawatirkan namun saya masih yakin semangat Pancasila dan keBhinnekaan tetap langgeng. Masalahnya tergantung pada diri kita sendiri. Semrawutnya kondisi yang ada sekarang karena kita kurang  memahami kaidah ajara agama masing-msing yang mengajarkan tentang  cinta kasih, menghormati antar sesama.
Kita harus berani introspeksi pada diri sendiri  karena dalam kehidupan kita sehari-hari  sampai ajal menjemput kita tidak bisa sendiri. Sejak lahir butuh bidan dan sampai dewasa, tidak bisa lepas dari hubungan orang lain. Begitu juga saat  berbisnis, misalnya  membuka toko, yang membeli tentu bermacam-macam. Ada yang beragama Budha, Kristen, Islam, dan lain-lain. Malah kalau kita batasi maka bisnisnya justru tidak bisa  jalan.”


Ongko Digdojo -  Buddhis Education Centre :
Sebetulnya Indonesia sejak dulu sudah dibangun dalam kebersamaan yang begitu rukun.  Hanya saja  teman-teman mengatakan bahwa penyerahan tongkat estafet yang kita alami tidak dikawal dengan baik, padahal sejak awal kemerdekaan para pendri bangsa sudah meyiapkan landasan yang bagus bagi pengembangan Indonesia ke depan.
Jika saya disuruh menilai tentang dinamika kemasyarakatan yang diwarnai kekerasan sebetulnya yang macam-macam seperti itu  kan nggak banyak, secara keseluruhnan bangsa kita masih menjunjung tinggi kebinnekaan. Kalau dirasa mengganggu memang mengganggu tapi kita tidak perlu panik menghadapi dinamika yang sedang berlangsung.
Lalu bagaimana kita membangun harapan? Memang pada waktu mendatang kita membutuhkan kepemimpinan yang kuat, meski membutuhkan waktu namun saya yakin kita akan menemukannya. Hal itu bisa menyimak pemilihan Gubernur Jakarta yang dimenangkan oleh pasangan yang sederhana namun tegas. Saya pikir itulah proses pemulihan Indonesia ke depan.

Bambang Noorsena -  Kristen Ortodok Syria :
Menurut saya, dalam konteks pergulatan bangsa di tengah-tengah problem kemajemukan, Pancasila tampil sebagai ideologi yang paling cemerlang, khususnya apabila dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain dalam pergulatan nasional mereka, meskipun problem kemajemukan kita jauh lebih kompleks.
Salah satu faktor, kita memiliki pijakan historis dan filosofis  yang jauh lebih kuat. Kita bisa membandingkan, Ernest Renan mengucapkan pidatonya yang terkenal Qu’est ce qu’une Nation? –“Apakah suatu Bangsa itu?”, di Universitas Sorbone, Prancis tahun 1882. Renan menekankan bahwa agama tidak bisa menjadi landasan kokoh berdirinya suatu bangsa, mungkin setelah ia melihat perpecahan Belanda dan Belgia, yang salah satu faktornya karena kepentingan wilayah Belgia yang mayoritas Katolik tidak dapat merasa terakomodasi oleh pemerintah pusat Belanda yang mayoritas Protestan.
Dalam hal tumbuhnya kesadaran mengelola kemajemukan masyarakat, di Barat − yang memang relatif sebagai suatu yang sangat baru − dapat dibilang sangat lambat. Kita memiliki pijakan historis yang lebih kokoh. Jauh sebelum Barat menyadarinya, seloka Bhinneka Tunggal Ika, sudah diperkenalkan lebih kurang 600 tahun sebelumnya (1340), bahkan jauh sebelum munculnya kesadaran Pluribus Unum-nya Amerika, karena memang ketika Mpu Tantular menulis karyanya, saat itu Amerika belum lahir.

KH. Agus Sunyoto -  Dosen Fak. Ilmu Budaya  Universitas  Brawijaya Malang
Pasca runtuhnya komunisme, kapitalis menjadi satu-satunya pemenang sekaligus penguasa dunia. Tatanan dunia pun diubah dalam konteks hegemoni kapitalis menguasai dunia di mana negara kapitalis melanggengkan imperialismenya dengan menempatkan posisinya sebagai negara pusat (core) yg menjadi tempat bergantung negara-negara dunia kedua dan ketiga yang berkedudukan sebagai negara pinggiran (periphery).
Untuk “menutupi” imperialismenya negara kapitalis merancang tatanan baru sebagaimana dikemukakan Samuel P. Huntington dalam buku The Clash of Civilization and The Remaking of World Order, di mana pasca runtuhnya komunisme yang terlibat konflik bukan lagi golongan sosialis-komunis yang mewakili proletar dengan golongan kapitalis-liberal yang mewakili borjuis, melainkan yg terlibat konflik adalah peradaban Barat yang diwakili Kristen dan peradaban Timur  yg diwakili Islam dan Konfusius.
Begitulah, perang antara Kristen dengan Islam menjadi fenomena di mana-mana dengan akibat langsung dan tidak ada satu orang pun membincangkan sepak terjang kapitalis mencaplok kekayaan negara-negara dunia ketiga.

Gus Luthfi Muhammad – Pengasuh PeNUS Ma’had Teebe Indonesia
Bagi bangsa Indonesia  sebenarnya masalah kebhinekaan itu tidak pernah jadi masalah karena kita sudah terbiasa plural. Kebhinekaan itu  sunnatullah dan itu sama dengan heterogin. Kalau ada yang menilai pemahaman masyarakat kita atas Pancasil semakin pudar karena masyarakat kita latah. Pertama karena  tidak mengerti sejarah, dan kedua latah.
Misalnya, yang bersekolah di Arabia ketika pulang otaknya menjadi Arab. Yang sekolah di Amerika ketika pula jadi American, yang Belanda Nederland, yang Pakistan menjadi Pakistani. Padahal Indonesia itu lebih hebat tapi orang-orang itu.Karena tidak mempelajari sejarah kemudian terperangah pada negara lain.
Sebuah contoh lagi, 10.000 tahun sebelum Masehi sampai 8.000 SM, itu terjadi eksodus besar suku Wajak, yang sekarang lokasinya bernama kawasan Campur Darat di Tulungagung, Jawa Timur. Kelompok itu menunju dua pulau, Aino  dan Jumono di Jepang. Kemudian beranak pinak menjadi bangsa Jepang. Memang kadang ada orang yang menyangsikan, apa pendapat saya ini bisa dipercaya? Lho kalau saya ngomong ini masak ndobos ? Tidak mungkin saya ngomong tanpa membaca.

Hadi Pranoto – Ketua DPD KBM – Keluarga Besar Marhaen – Jawa Timur
Namun bagi Indonesia yang pluralistis, yang berkomitmen melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Memajukan kesejahteraan  umum dan menegakkan hak azasi setiap warga negara melalui upaya penciptaan suasana yang aman, tertib, damai dan sejahtera, baik lahir maupun batin sebagai wujud hak setiap atas perlindungan agama, diri pribadi, kehormatan, martabat dan harta benda.
Maka perseteruan  atau benturan antar kelompok masyarakat atau konflik sosial jelas merupakan gangguan Kesalahannya terletak pada terjadinya erosi kesadaran dan keimanan bahwa sebenarnya perbedaan itu semuanya merupakan manifestasi daripada keesaan. Dalam satu keluarga jelas terdapat perbedaan. Selama perbedaan itu tidak dipertajam dan dibenturkan, maka tidak terjadi perceraian. Dari segi keimanan semua agama mengaminkan bahwa Tuhan Pencipta alam semesta dengans egala isinya. Bila kita takut danmenyembah serta menghormati Sang Maha Pencipta, maka kita menghormati sesame ciptaanNya
Strategi kebudayaan yang mesti dikembangkan untuk membangun kesadaran akan keindonesiaan  sekarang adalah kembali kepada semangat Trisakti Bung Karno. Berkepribadian dalam budaya, Jelas disesuaikan dengan jamannya. Namun inti dari kepribadian itu adalah tenggang rasa dan gotong royong. Sifat toleransi itu pula yang memungkinkan peradaban Hindu, Budha, Islam, Kristen, bisa diterima dan berkembang secara damai di muka Nusantara ini.

Penulis : Rokim Dakas
Sumber : http://indiependen.com/pancasila-ideologi-paling-cemerlang/

Tuesday, April 1, 2014

#SaveSatinah Metode Diyat Yang Terlalu "Lebay"


Belakangan ini, banyak media massa gencar memberitakan TKW Indonesia, Satinah yang berkerja di Arab Saudi. Ia terancam dihukum pancung dengan tuduhan melarikan uang majikan dan pembunuhan berencana pada majikannya. Kasus ini kemudian menjadi perhatian banyak orang, dari kita yang hanya orang kecil sampai ke level presiden. Bahkan "beberapa orang pemerintah" mengusulkan untuk menggunakan APBD guna menutup Diyat yang nilainya miliaran itu. What the f*@*$!?

Ada beberapa hal yang saya pribadi tidak setuju,

1.Metode Diyat yang digunakan.

Untuk membebaskan tersangka dari hukuman pancung, keluarga harus membayarkan sejumlah uang "tebusan" kepada keluarga korban. Jika hal tersebut dituruti, maka di kemudian hari akan muncul hal yang serupa dan dapat digunakan untuk pemerasan. Selain itu, bagaimana dengan nasib TKW lainnya yang terancam hukuman mati juga? Apakah keluarga dan pemerintah mampu membayar "tebusan" yang diminta keluarga korban? Sedangkan ada ratusan TKW yang terancam hukuman serupa di luar sana. Hal ini dapat menimbulkan rasa iri dari keluarga tersangka yang "tidak terbantu" denan keluarga yang terbantu.

2. Tersangka ( Satinah ) telah melakukan pelanggaran hukum

Entah karena memang Satinah diperlakukan secara kasar / membela diri, tapi hal tersebut tidak menghilangkan kesalahan / kelalainanya karena telah menghilangkan nyawa seseorang.

3. Sikap public figure yang terlalu lebay

Hal ini nampak jelas terutama mereka yang "hidup dalam partai politik". Hendaknya kasus seperti ini tidak digunakan untuk melakukan pencitraan, mentang-mentang sebentar lagi pemilu, lalu teriak sana teriak sini supaya terkesan perduli. Kenapa saya bilang pencitraan? Karena masih banyak saudara-saudara di sekitar kita yang jauh lebih membutuhkan.

Tidak perlu jauh-jauh urusin sampai ke luar negri, lihatlah di sekitar kita, berapa banyak orang meninggal karena tidak mampu membayar pengobatan?
Yang sering teriak #saveSatinah; pernah dengar cerita tentang Adzi, seorang anak yang menderita leukemia? Ia harus melakukan kemotherapy dan operasi sumsum tulang belakang dengan biaya "hanya sekitar 1.5 miliar". Namun karena dana bantuan yang terkumpul hanya sekitar 800jt, jadwal operasi mundur dari yang sudah dijadwalkan dan akhirnya Adzi meninggal.
Adzi. Source : http://twitpic.com/6oxqr8

Saya tahu leukemia adalah penyakit yang mengerikan, dan sangat kecil kemungkinan untuk dapat sembuh. Tapi menurut saya, kasus-kasus seperti Adzi lebih layak mendapatkan perhatian dan bantuan dibandingkan dengan kasus hukum mati TKW di luar sana.

Bukannya saya tidak setuju jika Satinah dapat dibebaskan dari hukuman mati, justru sebaliknya, saya akan sangat senang jika mereka dapat bebas dari hukuman mati. Yang saya tidak setuju hanyalah cara Diyat itu tadi. Kasus seperti Satinah ini seharusnya bukan diselesaikan dengan membayar keluarga korban, tetapi dengan pendekatan kepada keluarga korbah agar dapat dengan ikhlas memaafkan.  Jika Diyat terus dilakukan maka suatu saat nyawa manusia dapat diperjual belikan secara legal.

Monday, August 26, 2013

Tattoo dan Stigma Sosial Masyarakat


Sampai saat ini, detik ini, sebagian besar masyarakat Indonesia masih belum bisa menerima keberadaan manusia bertatto sepenuhnya. Seorang / kelompok bertatto seringkali mendapatkan label seorang preman, pemberontak, kasar dan suka kekerasan.

Diskriminasi terhadap tattoo sebenarnya tidak hanya di Indonesia, masyarakat dan pemerintah Jepang yang notabenenya adalah negara maju juga pernah sangat sensitif akan keberadaan manusia bertattoo. http://www.japansubculture.com/in-japan-tattoos-are-not-just-for-yakuza-anymore/

Di Indonesia, diskriminasi terhatap tattoo sangat kuat dari berbagai kalangan, dari yang muda sampai yang sudah tua kepada kaum adam dan lebih parahnya kaum hawa. Dari susahnya mendapatkan pekerjaan hingga susahnya mencari jodoh. Dengan mudahnya masyarakat menilai seseorang melalui apa yang mereka lihat. Ironis sekali jika sejumlah kelompok dengan penampilan tertentu menjadi sebuah patokan untuk "menghakimi" individu/kelompok lain.

Saya menemui ada sebuah statement mengenai tattoo dari "anak bangsa cerdas dan bermoral", berikut penampakannya :
kalau dibaca, kurang-lebihnya seperti ini :
"Tattooan boleh, tapi untuk di luar negeri. Namun bila di Indonesia, maka tutupilah tattoo itu agar pemuda harapan bangsa tidak sampai mencoba meniru, mari perbaiki moral pemuda Indonesia yang sudah parah ini agar bangsa Indonesia kembali berjaya.
Seni boleh seni, namun tempatnya di luar Indonesia yang moralnya berbeda dengan kita."
WOW! Sebuah "kolerasi sempurna" antara tattoo dengan moral bangsa. Saya yang jauh dari sempurna rasanya kurang bisa menerimanya. Bagaimana hubungannya tattoo dan moral bangsa? Apakah dengan bertattoo dapat mendorong seseorang melakukan tindak kriminal, korupsi, tidak konsisten dengan pekerjaan dan berhati baja yang tak mengenal cinta?

Kita sebagai orang Indonesia yang terdiri dari berbagai suku, agama, ras dan golongan tidak bisa menilai sesuatu dari 1 sudut pandang tertentu. Apa yang buruk untuk Anda bukan berarti buruk juga untuk Saya dan Mereka, apa yang buruk bagi Saya belum tentu juga buruk untuk Anda dan Mereka.

Tattoo sudah lama ada di Indonesia, bagi masyarakat Dayak contohnya, tattoo bukan sekedar tattoo dan itu memiliki makna yang sangat mendalam bagi mereka. Hargai orang lain, pluralisme dan keragaman budaya seharusnya dijaga sebagai kekayaan bangsa, bukan dileburkan supaya menjadi sesuai dengan suku, agama, ras, ataupun golongan tertentu. Buka matamu, siagakan telingamu, merdekakan pikiranmu dan perluas wawasanmu!